..:: Berita Lengkapnya ::.. |
| Kamis, 29-05-2008 | | yayasan Kibar Indonesia Dirikan IKM |  | Makassar, Upeks--Melihat situasi kebudayaan di Sulsel semakin menurun bahkan mulai terlupakan, Yayasan Kibar Indonesia mendirikan Institut Kesenian Makassar (IKM). | Upaya ini dilakukan untuk membangkitkan kembali kebudayaan lokal melalui pendidikan formal.
Pendirian IKM ini diharapkan dapat menjadi salah satu wadah untuk mengembalikan dan melestarikan kebudayaan lokal yang mulai terlupakan.
Hal itu dikemukakan Pendiri dan juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Kibar Indonesia, A Reza Ali, saat jumpa pers pendirian IKM di Hotel Horison, Selasa (27/5).
"Nilai budaya kita harus ditonjolkan, jangan sampai orang asing yang melakukannya. Ini memang tantangan buat kita namun kita harus berusaha. Dengan adanya IKM, harapan itu dapat menjadi kenyataan," kata Reza.
Hal serupa juga dikatakan salah seorang Budayawan dan Rektor IKM, Dr A Halilintar Lathief MPd, yang juga turut hadir dalam jumpa pers.
"Alangkah naifnya jika karya-karya sastra lokal kita dikelola orang lain sedangkan kita hanya pengguna atau konsumsi saja. Padahal di Sulsel memiliki banyak seniman dan budayawan. Dengan adanya IKM ini diharapkan agar kebudayaan dan kesenian lokal menjadi bagian kebudayaan global," kata Halilintar.
IKM ini merupakan institut kesenian pertama di Indonesia Timur. IKM menawarkan tiga fakultas yakni fakultas seni media rekam, desain, dan seni pertunjukan.
"Kami tidak hanya menjual fasilitas dan gedung, namun di IKM, kami menawarkan dosen dan program pengajaran yang semuanya dibingkai dalam kultur budaya Sulsel," kata Ketua Pengurus Yayasan Kibar Indonesia, Hidayat Hafied.
Visi IKM yang ingin dicapai yakni menciptakan, memelihara, dan mengembangkan seni serta memperkaya nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan hidup dengan dimensi kultural dan spiritual, serta peka dan tanggap terhadap fenomena perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Sedangkan fungsi utama IKM yakni untuk mengembang potensi sumberdaya manusia di bidang seni budaya, baik kependidikan maupun no kependidikan yang mandiri dan memiliki integrasi sesuai dengan tuntutan pembangunan yang berkesinambungan dengan prinsip non diskriminatif.
Proses penerimaan mahasiswa baru akan dimulai pada tahun baru pembelajaran tahun ini. "Walaupun kini kami masih mencari lokasi tempat yang memadai, namun kami telah siap menerima mahasiswa baru. Rencananya jumlah mahasiswa yang akan diterima minimal 40 orang setiap kelas untuk semua fakultas," kata Reza.Upaya ini dilakukan untuk membangkitkan kembali kebudayaan lokal melalui pendidikan formal.
Pendirian IKM ini diharapkan dapat menjadi salah satu wadah untuk mengembalikan dan melestarikan kebudayaan lokal yang mulai terlupakan.
Hal itu dikemukakan Pendiri dan juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Kibar Indonesia, A Reza Ali, saat jumpa pers pendirian IKM di Hotel Horison, Selasa (27/5).
"Nilai budaya kita harus ditonjolkan, jangan sampai orang asing yang melakukannya. Ini memang tantangan buat kita namun kita harus berusaha. Dengan adanya IKM, harapan itu dapat menjadi kenyataan," kata Reza.
Hal serupa juga dikatakan salah seorang Budayawan dan Rektor IKM, Dr A Halilintar Lathief MPd, yang juga turut hadir dalam jumpa pers.
"Alangkah naifnya jika karya-karya sastra lokal kita dikelola orang lain sedangkan kita hanya pengguna atau konsumsi saja. Padahal di Sulsel memiliki banyak seniman dan budayawan. Dengan adanya IKM ini diharapkan agar kebudayaan dan kesenian lokal menjadi bagian kebudayaan global," kata Halilintar.
IKM ini merupakan institut kesenian pertama di Indonesia Timur. IKM menawarkan tiga fakultas yakni fakultas seni media rekam, desain, dan seni pertunjukan.
"Kami tidak hanya menjual fasilitas dan gedung, namun di IKM, kami menawarkan dosen dan program pengajaran yang semuanya dibingkai dalam kultur budaya Sulsel," kata Ketua Pengurus Yayasan Kibar Indonesia, Hidayat Hafied.
Visi IKM yang ingin dicapai yakni menciptakan, memelihara, dan mengembangkan seni serta memperkaya nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan hidup dengan dimensi kultural dan spiritual, serta peka dan tanggap terhadap fenomena perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Sedangkan fungsi utama IKM yakni untuk mengembang potensi sumberdaya manusia di bidang seni budaya, baik kependidikan maupun no kependidikan yang mandiri dan memiliki integrasi sesuai dengan tuntutan pembangunan yang berkesinambungan dengan prinsip non diskriminatif.
Proses penerimaan mahasiswa baru akan dimulai pada tahun baru pembelajaran tahun ini. "Walaupun kini kami masih mencari lokasi tempat yang memadai, namun kami telah siap menerima mahasiswa baru. Rencananya jumlah mahasiswa yang akan diterima minimal 40 orang setiap kelas untuk semua fakultas," kata Reza. (Sariulfa) |
|
|
Berita Lainnya |
|
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
|
|
|
|
|
|
| | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | |
|
|
|