..:: Berita Lengkapnya ::.. |
| Sabtu, 28-11-2009 | | PAD Miliaran, Bawakaraeng Hanya Jadi Tempat "Berhaji" | Menyusuri Keindahan Gunung Bromo (1) | Gunung Bromo yang terletak di Surabaya Jawa Timur, merupakan aset wisata yang menggiurkan. Selain karena terkandung nilai-nilai sejarah yang tinggi, gunung di atas ketinggian 2.340 kaki dari permukaan laut ini, juga memiliki panorama indah. Tak ternilai, dengan apapun. | Dingin. Begitulah yang akan Anda rasakan saat pertama kali keluar dari mobil. Suhu mencapai 10 derajat, bahkan sampai 0 derajat Celsius saat menjelang pagi. Maka, wisatawan diharuskan mempersiapkan pakaian dingin; topi kupluk, sarung tangan, kaus kaki, syal. Tujuannya, itu tadi, mengatasi dingin yang bisa menusuk sampai tulang. Tapi, bila Anda melupakan perlengkapan tersebut, jangan khawatir. Banyak penjaja keliling yang menawarkan topi, sarung tangan, atau syal, dengan harga murah. Bila ingin menginjakkan kaki di Gunung Bromo, harus melalui tiga desa terlebih dahulu. Hanya saja, perlu perjuangan karena jalanan berliku dan penuh tanjakan.
Sisi kanan kiri jalan, adalah jurang terjal yang kedalamannya dua hingga tiga kilometer. Desa pertama yang dilalui, yakni Desa Sukapura. Dari desa tersebut, hanya ada dua jenis kendaraan yang berani menantang terjalnya jalan, satu mobil bus keluaran tahun 60-an dan satunya mobil jeep (baca hardtop).
Tarifnya bervariasi, mulai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Jika tiba di Desa Sukapura, hawa dingin mulai menyusup. Satu lapis pakaian penahan hawa dingin, dipastikan tidak mampu menahan suhu dari Gunung Bromo yang berkisar 9 hingga 10 derajat celcius. Pengunjung Gunung Bromo, harus menyiapkan jaket tambahan dan penutup kepala untuk sedikit mengusir dinginnya hawa di Gunung Bromo.
Penulis sempat terkagum-kagum dengan kondisi alam yang sejuk, serta hijaunya kebun-kebun hasil olahan penduduk setempat. Desa terakhir yang kita dapati di Gunung Bromo, adalah Desa Wonokirti. Dari desa ini, kita bisa langsung melihat asap lava dari Gunung Bromo yang tak pernah berhenti.
Bila kita bisa tiba di desa tersebut jam 5.00 sore WIB, maka keindahan itu akan semakin sempurna dengan cahaya menjelang tenggelamnya matahari. Uniknya, cahaya sunset tersebut terpancar di sela-sela antara Gunung Bato dan Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau jawa, dengan ketinggian 3.200 kaki dari permukaan laut.
"Kalau pagi dan siang hari terlihat sepi. Tapi kalau sore ramai sekali," kata Suharto, 27, salah seorang penyedia jasa penyewaan jaket kepada penulis. Dia mengatakan, tingkat kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo terlihat melonjak pada awal Bulan September, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Hadirnya wisatawan ini, ikut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di Desa Wonokitri dengan jumlah penduduk sekitar 400 kepala keluarga (KK).
Di atas puncak Gunung Bromo, para wisatawan tidak perlu repot mencari tempat penginapan. Berbagai hotel berbintang bisa dijumpai. Bila okupansi hotel mengalami lonjakan, ada tempat penginapan alternatif yang murah meriah. Hanya saja, memang, fasilitas yang tersedia sedikit berbeda.
Maklum, penginapan itu adalah milik para penduduk setempat yang khusus disewakan kepada para pengunjung. Tarifnya lumayan murah, Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per malamnya.
Keindahan alam Gunung Bromo, mengingatkan penulis para keindahan Gunung Bawakaraeng di daerah ini, Sulawesi Selatan. Dari segi panorama alam, sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Bahkan, kalau mau jujur, hamparan hijaunya pepohonan di Gunung Bawakaraeng, jauh lebih memberi daya tarik. Sayangnya, memang, sistem pengelolaan wisata Gunung Bawakaraeng jauh tertinggal di banding Gunung Bromo. Di Gunung Bromo, sistem pengelolaan wisatanya memang tertata rapi. Ada dua kabupaten yang ditunjuk langsung Pemprov Jawa Timur untuk memaksimalkan pengelolaannya, yakni Kabupaten Sidoardjo dan Kabupaten Pasuruan. Jadi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) masuk dalam dua kabupaten tersebut.
Belum diperoleh informasi pasti berapa sumbangan PAD dari sektor itu. Namun, informasi yang beredar, jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah per tahunnya. Bayangkan, jika Bawakaraeng dikelola dengan baik, kemudian mendapatkan PAD yang nilainya miliaran rupiah. Juga, paling tidak, bisa mencegah orang-orang yang mungkin kurang mengerti manfaatnya, sehingga terkadang dijadikan tempat untuk "naik haji".
Tapi, tidak usah jauh-jauh berbicara soal pengelolaan wisata, berbicara dalam skala infrastruktur saja. Gunung Bawakaraeng yang terletak di wilayah Kabupaten Gowa, secara geografis, telah kalah di Banding Gunung Bromo. Bila di Bawakaraeng, kita masih menjumpai jalanan yang berlumpur sehingga sulit dilalaui kendaraan, tidak demikian halnya di Gunung Bromo. Kira-kira 100 kilometer jalan menuju puncak, tak sedikit pun yang tak tersentuh aspal hotmix. Bila ada jalan yang susah untuk di aspal, Pemrov Jatim melalui Kabupaten Pasuruan dan Sidoardjo, menerapkan sistem beton. Sehingga tidak salah, bila wisatawan sangat tertarik untuk melakukan kunjungan ke Bromo. Bahkan, hingga ke titik tertinggi Gunung Bromo, jalanan beraspal dapat dijumpai. Bila saja, pengelolaan serupa diterapkan pemerintah di Gunung Bawakaraeng, dapat diyakini, gunung yang diberi julukan Mulut Tuhan itu, akan menjadi "surga" tersendiri bagi para wisatawan. Sehingga itu tadi, tidak lagi disalahgunakan sebagai tempat menunaikan ibadah haji oleh beberapa masyarakat, yang biasa lebih dikenal dengan Haji Bawakaraeng. (#)
(Surianda Panambai) |
|
|
Berita Lainnya |
|
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
| | Selasa, 09-02-2010 |
|
|
|
|
|
|
| | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | | | Selasa, 09-02-2010 | |
|
|
|